SOMEDAY
Hari-hari merupakan hitam putih sesekali terselip
abu. Umpama tembakau dalam kemasan petang, kunikmati selingan kelabu yang
menggelayuti mau sebelum datang merah.
Kau mengetuk pintu dan kubiarkan masuk lewat
jendela. Pintu terlalu lapang saat terbuka -mengaburkan asap yang ingin kujaga
baunya dalam kubusku.
Demi kelayakan predikat, kubagi sesesap jujur
padamu yang masuk lewat jendela berkarat. Kepulannya merasuki celah yang
rahasia, kenapa kau buka pintu?
Jadi teringat pendapat seorang
teman yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk seni yang paling subjektif.
Berbeda dengan lakon, tari atau lukisan, puisi tidak dapat dinilai secara
visual. Berhubung ia lebih banyak bermain di ranah rasa dan emosi, tidak
seperti cerpen atau novel yang dapat ditelusuri narasi, plot dan karakter
tokoh-tokohnya, maka penilaian terhadap bagus tidaknya sebuah puisi cenderung
menjadi ambigu. Menuruku, kedua puisi tulisan Pringadi Abdi dan Andi Gunawan
adalah contoh puisi yang bagus. Pemilihan diksi yang menarik: Hari-hari
merupa hitam putih sesekali terselip abu (Kau Gemakan Laguku Saat Jendela
Terbuka); kenapa abu, bukannya kelabu? Kupikir abu, selain mewakili warna, juga
merupa sebagai abu dari sisa pembakaran, yang ternyata tepat sekali disambung
dengan kalimat berikutnya: Umpama tembakau dalam kemasan petang. Atau
rima yang manis sekali di puisi Sajak Cinta Buat Nda: di palembang, nda. di
palembang.// burung-burung tidak lagi kepingin terbang, udara//dingin menusuk
tulang, dan syalmu menanti. Kata-kata berakhiran ‘g’ dalam palembang,
burung, terbang dan tulang, terbaca ritmis meski tidak selalu disandingkan
menjadi kata terakhir di baris. Pengulangan kata di palembang, di palembang,
adalah penekanan lokasi yang disambung dengan gambaran jembatan ampera di bait
terakhir yang berhasil membawa kita ke dalam perjalanan cinta nda dengan si
penyair.
Kalaupun ada yang tidak
sependapat dengan apresiasiku dalam menilai kedua puisi di atas, silakan saja.
Rasa memang tidak dapat dipaksa. Tapi kalau ada yang menilai semua puisi di
Kompasiana adalah karya sampah dan tidak ada yang bagus, ini sama saja dengan
orang buta yang memegang kaki seekor gajah lalu berasumsi bahwa dia telah
menjelajahi dan mengerti keseluruhan fisik dari gajah.
Terakhir, saya percaya puisi
yang ditulis dari hati yang jujur hasilnya akan jauh lebih bagus daripada puisi
yang hanya berkutat di seputaran diksi dan teori kepenulisan saja. Puisi
tersebut akan terlihat keren, tapi kosong. Jadi, wahai penulis puisi, gunakan
diksimu segila-gilanya, seliar-liarnya, dan menulislah dari hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar