Jumat, 21 November 2014

SOMEDAY
Hari-hari merupakan hitam putih sesekali terselip abu. Umpama tembakau dalam kemasan petang, kunikmati selingan kelabu yang menggelayuti mau sebelum datang merah.
Kau mengetuk pintu dan kubiarkan masuk lewat jendela. Pintu terlalu lapang saat terbuka -mengaburkan asap yang ingin kujaga baunya dalam kubusku.
Demi kelayakan predikat, kubagi sesesap jujur padamu yang masuk lewat jendela berkarat. Kepulannya merasuki celah yang rahasia, kenapa kau buka pintu?
Jadi teringat pendapat seorang teman yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk seni yang paling subjektif. Berbeda dengan lakon, tari atau lukisan, puisi tidak dapat dinilai secara visual. Berhubung ia lebih banyak bermain di ranah rasa dan emosi, tidak seperti cerpen atau novel yang dapat ditelusuri narasi, plot dan karakter tokoh-tokohnya, maka penilaian terhadap bagus tidaknya sebuah puisi cenderung menjadi ambigu. Menuruku, kedua puisi tulisan Pringadi Abdi dan Andi Gunawan adalah contoh puisi yang bagus. Pemilihan diksi yang menarik: Hari-hari merupa hitam putih sesekali terselip abu (Kau Gemakan Laguku Saat Jendela Terbuka); kenapa abu, bukannya kelabu? Kupikir abu, selain mewakili warna, juga merupa sebagai abu dari sisa pembakaran, yang ternyata tepat sekali disambung dengan kalimat berikutnya: Umpama tembakau dalam kemasan petang. Atau rima yang manis sekali di puisi Sajak Cinta Buat Nda: di palembang, nda. di palembang.// burung-burung tidak lagi kepingin terbang, udara//dingin menusuk tulang, dan syalmu menanti. Kata-kata berakhiran ‘g’ dalam palembang, burung, terbang dan tulang, terbaca ritmis meski tidak selalu disandingkan menjadi kata terakhir di baris. Pengulangan kata di palembang, di palembang, adalah penekanan lokasi yang disambung dengan gambaran jembatan ampera di bait terakhir yang berhasil membawa kita ke dalam perjalanan cinta nda dengan si penyair.
Kalaupun ada yang tidak sependapat dengan apresiasiku dalam menilai kedua puisi di atas, silakan saja. Rasa memang tidak dapat dipaksa. Tapi kalau ada yang menilai semua puisi di Kompasiana adalah karya sampah dan tidak ada yang bagus, ini sama saja dengan orang buta yang memegang kaki seekor gajah lalu berasumsi bahwa dia telah menjelajahi dan mengerti keseluruhan fisik dari gajah.
Terakhir, saya percaya puisi yang ditulis dari hati yang jujur hasilnya akan jauh lebih bagus daripada puisi yang hanya berkutat di seputaran diksi dan teori kepenulisan saja. Puisi tersebut akan terlihat keren, tapi kosong. Jadi, wahai penulis puisi, gunakan diksimu segila-gilanya, seliar-liarnya, dan menulislah dari hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar